RANGKASBITUNG – Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Desa Tertinggal (P4DT) yang didanai lebih dari Rp 800 juta dalam bentuk fisik dan non-fisik kepada 4 desa di 2 kecamatan harus tepat sasaran.
Ini dilakukan agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Terlebih saat ini banyak program pusat untuk daerah yang mekanismenya relatif sama, yang dimungkinkan tumpang tindih atau double program. Sementara, daerah lain yang memiliki kebutuhan yang sama terabaikan. Keempat desa itu adalah, Keroya dan Cirinten di Kecamatan Cirinten, serta Cisimeut dan Bojong Menteng di Kecamatan Leuwidamar.
Ketua Tim Koordinasi P4DT Kabupaten Lebak Robert Chandra mengatakan, untuk mengantisipasi persepsi yang keliru atas bantuan itu, pihaknya terus memberikan keterangan yang detail saat melakukan sosialisasi sebelum program itu diluncurkan, termasuk peringatan agar tidak melakukan penyimpangan.
“Jangan sampai program itu tidak tepat sasaran. Karenanya, saat sosialisasi kami berikan keterangan yang terperinci,” kata Robert, yang juga Kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lebak, Selasa (13/1).
Mekanisme yang digunakan dalam implementasi program tersebut, menurut Robert, pihaknya cukup hati-hati agar tidak ada pihak yang dirugikan, termasuk penentuan pihak yang menyuplai barang program itu. “Kami menunjuk pengusaha lokal sebagai pihak pengadaan barang, yakni CV Unggul dan CV Maharani. Masing-masing bertanggung jawab atas pengadaan bibit karet dan alat-alat pengolah getah karet,” katanya.
Diterangkan Robert, anggaran ini digunakan untuk fisik dan non fisik, berupa penyediaan 50 ribu batang bibit pohon karet, 7.500 kilo gram pupuk dan alat pengolah getah karet yang disebar di 4 desa itu.
“Untuk bibit karet dan pupuknya sudah selesai didistribusikan bulan Desember lalu. Sementara alat pengolah getah karet baru berikan pekan depan,” ujar Robert menerangkan. (sir/brp)
sumber: www.radarbanten.com
Ketua Tim Koordinasi P4DT Kabupaten Lebak Robert Chandra mengatakan, untuk mengantisipasi persepsi yang keliru atas bantuan itu, pihaknya terus memberikan keterangan yang detail saat melakukan sosialisasi sebelum program itu diluncurkan, termasuk peringatan agar tidak melakukan penyimpangan.
“Jangan sampai program itu tidak tepat sasaran. Karenanya, saat sosialisasi kami berikan keterangan yang terperinci,” kata Robert, yang juga Kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lebak, Selasa (13/1).
Mekanisme yang digunakan dalam implementasi program tersebut, menurut Robert, pihaknya cukup hati-hati agar tidak ada pihak yang dirugikan, termasuk penentuan pihak yang menyuplai barang program itu. “Kami menunjuk pengusaha lokal sebagai pihak pengadaan barang, yakni CV Unggul dan CV Maharani. Masing-masing bertanggung jawab atas pengadaan bibit karet dan alat-alat pengolah getah karet,” katanya.
Diterangkan Robert, anggaran ini digunakan untuk fisik dan non fisik, berupa penyediaan 50 ribu batang bibit pohon karet, 7.500 kilo gram pupuk dan alat pengolah getah karet yang disebar di 4 desa itu.
“Untuk bibit karet dan pupuknya sudah selesai didistribusikan bulan Desember lalu. Sementara alat pengolah getah karet baru berikan pekan depan,” ujar Robert menerangkan. (sir/brp)
sumber: www.radarbanten.com

No comments:
Post a Comment