Dec 9, 2007

KOMPOR GAS GRATIS

Konversi minyak tanah

MEM-PNS-KAN SEKDES : Suatu Analisa


MEM-PNS-KAN SEKDES: Suatu Analisa
Oleh: Rustandi

Pendahuluan
Semangat reformasi di negara kita telah memasuki berbagai sektor kehidupan berbangsa/bernegara, tidak terkeculai dengan sektor birokrasi pemerintahan. Struktur birokrasi kita yang terdiri dari tingkat pusat hingga ke tingkat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat yakni Desa.
Dasar Pemikiran
Sebagai pelaksana pemerintahan, birokrasi di tuntut tidak hanya memfungsikan diri dalam hal pelayanan tetapi lebih dari itu juga harus mempelopori pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Ketimpangan pembangunan yang selama ini terpusat di kota ditambah lagi dengan minimnya pemberdayaan masyarakat baik dari segi kemandirian ekonomi, sosial maupun kedewasaan berpolitik, telah mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi masyarakat di tingkat bawah (desa).
Untuk meng-agregasikan antara pemikiran untuk pemberdayaan masyarakat, lalu memformulasikan langkah-langkah pelaksanaan dilapangan secara langsung dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu memfungsikan pemerintahan di tingkat bawah tersebut baik, yang bersifat pelayanan, adimistratif, pembangunan maupun pengelolaan keuangan pemerintahan.
Salah-satu sumberdaya manusia yang diharapkan mampu menjadi agregator sesuai kerangka berfikir diatas adalah aparat desa, aparat desa yang selama ini telah fungsional dalam proses pemerintahan tidak lain yaitu Sekretaris Desa (Sekdes).
Untuk lebih meningkatkan kapasitas, tanggung jawab dan motivasi sekretaris desa dalam konteks diatas tidak lain dengan cara mengkondisikan sekretaris desa sebagai bagian dari pemerintah/aparat birokrasi yang mumpuni dan professional (diangkat menjadi PNS).
Dengan demikian, dasar pemikiran utama yang menjadi latar belakang pemerintah mem-PNS-kan Sekdes yaitu:
* Wujud semangat reformasi yang menekankan agar birokrasi dapat lebih berfungsi secara maksimal hingga menyentuh lapisan bawah (pelosok Desa)
* Masih beraneka-ragamnya tingkat kwalitas dan kapasitas Sekdes desa dalam melaksanakan tugas pemerintahan di Desa.
* Mem-PNS-kan Sekdes sebagai tindakan pemerintah dalam rangka menciptakan Sekdes yang profesional, mumpuni serta mampu menjawab tantangan dan kompleksitas pemerintahan ke depan
Tujuan
Adapun tujuan pemerintah mem-PNS-kan Sekdes, secara khusus dapat ditinjau dari beberapa aspek :
* Aspek Politik : Memberikan kesempatan kepada anggota masyarakat yang berkompetensi/memenuhi syarat untuk dapat berpartisipasi dalam memajukan daerah/desanya sesuai tujuan nasional.
* Aspek Manajemen Pemerintahan : Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta mengelola APBDes secara lebih efesien, efektif dan akuntabel.
* Aspek Perekonomian & Pembangunan : Peningkatkan kemandirian ekonomi masyarkat, mendukung peningkatan daya saing daerah, menginovasi dan melaksanakan program pembangunan dan menstimulasi partisipasi masyarakat dalam meningkatkan tarap-hidup dan kemandirian dalam segala bidang.
* Aspek kultural : Melestarikan nilai-nilai/ budaya/adat-adat istiadat setempat dalam rangka penguatan budaya nasional, melestarikan identitas dan kekhususan lokal/setempat serta melestarikan lingkungan dan ekosistem.

Tantangan
Entitas desa merupakan komunitas yang melekat berbagai karateristiknya yang masih perlu mendapata perhatian misalanya: pola fikir/pemahaman yang masih tradisional, interaksi sosial yang masih kuat bercirikan paternalistik, primordialis/feodalistik.
Karateristik tersebut pada prakteknya nanti akan sangat berpengaruh dalam pelaksanaan tugas-tugas Sekdes (terlepas PNS atau bukan sebetulnya). Faktor karakteristik tersebut, setidaknya dapat berpengaruh kepada bidang politik, pemeritnahan maupun sosial kemasyarakatan sebagaimana dapat difahami dari kondisi berikut :

· Bidang Politik
Secara tidak langsung telah terjadi dua model asal jabatan pada tingkat pemeritnahan desa antara karir & politis. Jabatan politis melekat pada figure kepala desa yang dipilih langsung oleh rakyat/masyarakat, sedangkan jabatan karir melekat pada figure sekdes yang diplih berdasarkan pengangkatan seseuai persyaratan.
Adanya dua kutub yang berbeda tersebut, pada prateknya nanti akan berpotensi menimbulkan terjadinya friksi antara keduanya. Hal tersebut debabkan secara psikoogis mereka berbeda dalam hal “kepentingan”, seorang kepala desa lebih berdimensi jabatan yang bersendikan simbol kekuasaan dengan segala “seni” yang mengitarinya. Sedangkan Sekdes berdimensi pengabdian yang bersendikan profesionalisme.
Begitujuga hubungan antara lembaga desa/supra desa yang lain misalnya dengan BPD, sebagai lembaga yang sama-sama bersifat politis maka main-set antara Kades dan BPD tidak akan jauh berbeda. Sehingga secara politis akan timbul potensi terjadi kemandulan fungsi (dis-function) lembaga Sekdes.

· Bidang Pemerintahan
Begitupula dalam praktek pemerintahan, sebagai seorang birokrat professional Sekdes dituntut untuk bersikap netral, mementingkan khalayak serta menjunjung tinggi profesionalisme sesuai prinsip good governance. Sedangkan disisi lain seorang kepala Desa yang bersendikan symbol kekuasaan cenderung lebih memperhatikan apa yang selama ini menjadi perhatiannya.
Maka tidak heran apabila pada saatnya nanti akan terjadi kondisi dimana Sekdesnya yang seorang PNS akan lebih senang “numpang ngantor” dikantor kecamatan untuk berintearksi dengan koleganya, sedangkan Kepala Desa nya yang penguasa desa lebih senang “nongkrong” dengan kroninya.
Dengan demikian akan terjadi potensi terjadinya perbedaan visi/misi dalam praktek pelaksanaan pemerintahan sehingga proses jalannya pemerintahan tidak efektif. Dalam jangka panjang kondisi demikian akan menjadi blunder (bom waktu) karena esensi/tujuan mem-PNS-kan Sekdes tidak tercapai, alih-alih pemerintahan efektif, efesien dan berkwalitas yang ada hanya menghabiskan anggaran Negara.

· Bidang Sosial & Kemasyarakatan
Pengangkatan sekdes menjadi PNS secara psiko-sosial akan menimbulkan suatu pengharapan yang lebih (over expectation) oleh masyarakat terhadap seorang Sekdes, karena dengan sendirinya mereka menganggap bahwa Sekdes yang telah PNS telah berada pada strata sosial yang jauh lebih berbeda dari kondis mereka pada umumnya.
Over-expectation masyarakat tersebut dapat mencapai semua aspek bahkan dapat menembus segala ruang dan waktu. Dalam hal ekonomi keluarga seorang Sekdes akan dipandang “tajir” dan ada expektasi masyarakat untuk bersifat royal, dalam hal pembangunan sosial/ekonomi masyarakat seorang Sekdes dipandang harus berperan melamapui peran yang lain tanpa melihat keterkaitan konsep pembangunan dengan dukungan anggran. Dsb..dsb..
Dengan melihat uraian/analisa diatas, dapat difahami bahwa tugas/tanggung-jawab seorang Sekdes PNS demikian besar, kompleks dan sangat menyentuh dimensi kekuasaan desa dengan segala karateristiknya. Sehingga dengan diangkatnya seorang Sekdes menjadi PNS tidak serta-merta/instant dapat mengkondisikan proses pelayanan pemerintahan berjalan efektif, efesien dan berkwalitas karena banyak factor yang mempengaruhinya.
Kritik untuk Pemerintah
Substansi kritik ini terletak pada kedangkalan pemerintah dalam memandang tugas/tanggung jawab seorang Sekdes yang hanya dari perspektif geografis -cuma kerjaan di desa apa susahnya sech..!, begitu kira-kira dalam bahasa sederhananya- tanpa melihat substansi tugas/tanggung maupun tujuan yang hednak dicapai, khususnya dikaitkan dengan status/kedudukan PNS.

Kedangkalan tersebut dapat di indikasikan pada aturan hukum yang telah Pemerintah keluarkan yaitu PP No. 45 Tahun 2007 tentang Syarat dan Tata-cara Pengangkatan Sekdes menjadi PNS.

Dalam Pasal 3 ayat (3) UU dimaksud disebutkan bahwa: “Sekretaris Desa yang memiliki Ijazah lebih tinggi dari STTB Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), diangkat sebagai PNS dalam pangkat/golongan ruang sesuai dengan ijazah SLTA”.

Dari ayat diatas, dapat difahami bahwa dalam hal seorang yang berijazah Sarjana (S1) akan diberikan bobot pangkat/golongan ruang yang sama dengan seorang yang ber-ijazah SLTA. Padahal perbedaan pangkat/golongan ruang tersebut cukup berbeda sebagaimana tingkat pendidikannya yang juga berbeda, dimana diketahui untuk STLA/sederajat diberikan bobot : IIa/Pengatur Muda sedangkan Strata 1/sederajat diberikan bobot : IIIa/Penata Muda

Menurut pendapatan saya: oleh karena status dan kedudukan Sekdes tersebut sebagai PNS seperti yang lain maka aturan kedudukan keuangan Sekdes juga harus sama dengan yang lain yang memperhatikan bobot ijazah. Dengan demikian apresiasi Pemerintah terhadap tugas/tanggung-jawab Sekdes PNS tidak hanya dilihat dari kondisi sektoral/geografisnya hanya tingkat desa tetapi harus dilihat juga dari status dan kedudukannya.

Karena secara aturan hukum -dalam hal ini PP (Peraturan Pemerintah)- mengenai status dan kedudukan keuangan PNS Sekdes dan non-Sekdes itu berbeda, tetapi dari segi aturan yang lebih tinggi yaitu UU (Undang-Undang) Pokok Kepegawaian baik status, kedudukan, hak maupun kewajiban semua PNS mengacu kepada UU ini (UU No. 8 Tahun 1974 jo UU No. 43 Tahun 1999).

Oleh karena itu, dilihat dari aturan perundang-undangan status/kedudukan PNS Sekdes yang notabene bagian dari UU telah “di kebiri” oleh PP yangmana dalam hyrarki konstitusional PP lebih rendah dari UU sehingga tidak dapat menggugurkan UU selama UU itu sendiri belum dirubah/dibatalkan.

--o0o--

KAB.CILANGKAHAN: cinta, cerita, realita, cita2

Tulisan ini seharusnya kami turunkan dari dulu sehingga tidak dianggap basi,
tapi karena satu dan lain hal tulisan ini baru dapat kami turunkan saat ini.

Wacana pembentukan kabupaten baru disebelah selatan kabupaten lebak resonansinya sedikit memudar entah kenapa......

Terlepas dari mulai mengendornya gaungan untuk pemebentukan tersebut, sebagai putra daerah tentu orang bermacam-macam memberikan tanggapan terhadap niatan tersebut. Ada yang mendukung tapi sebaliknya ada juga yang menolak. Pro dan kontra masalah seperti diatas hendaknya kita lewati secara arif dan bijaksana.

Karena "Cinta"
Dorongan untuk mewujudkan kabupaten cilangkahan (terlepas dari kabupaten lebak) hendaknya didasari oleh rasa cinta dan empati kepada daerah, karena dorongan untuk menjadikannya yang dicintai itu lebih baik dari sebelumnya. Dengan kata lain aspirasi yang diwacanakan itu hendaknya karena panggilan jiwa dalam rangka komitment pembangunan, sehingga arah perjuangannya diperlukan sesuatu yang visioner dan berjangka panjang, jangan sampe hal tersebut telah terbentuk tetapi kehilangan arah terlebih lagi bila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.

Belajarlah dari "Cerita"
Cerita dalam pengertian disini adalah nilai-nilai informasi atau sejarah, baik yang terjadi pada kabupaten induknya ataupun cerita yang terjadi pada lingkungan cilangkahan itu sendiri.

Sikap bijak terhadap cerita/sejarah akan berguna dalam menata langkah perjuangan selanjutnya, karena nilai-nilai sejarah itu terdiri dari dua sisi mata uang antara baik dan buruk. Sehingga setiap keburukan yang pernah terjadi hendaknya tidak terulang kembali sedangkan kebaikannya hendaknya dijadikan contoh.

Sejarah yang layak kita catat dari alam kidul sendiri adalah ketersediaan sumber daya alam yang melimpah baik dari laut, hutan, kebun ataupun barang tambang.

Laut kita sebagai sumber  

 





May 29, 2007

SELAYANG - PANDANG

Mengemukakan hal-ikhwal tentang banten kidul bukanlah perkara gampang, karena ini menyangkut "bagaimana dulu", "ada apa sekarang", dan "akan seperti apa nanti". Melihat "sosok" banten kidul pada dasarnya tidak akan terlepas dari "sosok" banten itu sendiri bahkan mungkin indonesia secara keseluruhan.

Sehingga tidak heran bila hal ini saya jadikan slogan dalam blog ini, karena untuk memandang utuh suatu pembahasan tenang banten kidul harus menyangkut : CERITA/sejarah masa lalu, REALITA/kenyataan yg terjadi saat ini dan CITA-CITA/harapan yang perlu dicapai nanti.

Sejarah

Sebagaimana disebutkan dalam web site www.lebakkab.go.id sejarah banten kidul tidak terlepas dari sejarah kabupaten lebak itu sendiri, yang mana menyebutkan bahwa pada tanggal 19 Maret 1813 Kesultanan Banten dibagi kedalam beberapa wilayah :
  1. Banten Lor
  2. Banten Kulon
  3. Banten Tengah
  4. Banten Kidul
Pada waktu itu wilayah banten kidul ibukota pemerintahannya berada di Cilangkahan, sehingga berawal dari sejarah inilah sebutan banten kidul sebetulnya telah lama ada.

Seiring dengan masuknya kolonial belanda, bekas keresidenan banten ini kemudian mengalami beberapa pergantian kewilayahan yang salah satunya adalah muncul istilah Kabupaten Lebak

Tanggal 14 Agustus 1925 Pemerintah Kolonial belanda menetapkan Kabupaten Lebak sebagai daerah pemerintahan sendiri yang mana wilayah kerjanya meliputi: Distrik Parungkujang, Distrik Rangkasbitung, Distrik Lebak dan Distrik Cilangkahan. Dari sinilah awal mula Cilangkahan masuk kepada wilayah kerja kabupaten lebak. Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi web site tersebut diatas !

Sedangkan Banten Kidul atau istilah lainnya Banten Selatan, saat ini merupakan daerah-daerah yang terdiri dari beberapa kecamatan dan merupakan bagian dari wilayah kerja kabupaten lebak, propinsi banten.

Cakupan Banten Kidul
Untuk lebih mudah dalam memetakan wilayah mana saja yang mencakup banten kidul, perlu terlebih dahulu memetakan wilayah Banten. Karena wilayah cakupan banten kidul saat ini merupakan turunan ketiga dari wilayah Provinis Banten, yakni: Provinis Banten -> Kabupaten Lebak -> Kecamatan-kecamatan yang merupakan cakupan wilayah Banten Kidul.

Provinsi Banten
Dulu wilayah provinsi banten merupakan bagian dari provinsi jawa barat, namun sejak tahun 2000 banten terpisah dari jawa barat dan menjadi provisi tersendiri. Wilayah kerja Provinsi Banten terdiri dari : Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kabupaten Serang (yang saat ini sedang diarahkan menjadi Kota), Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Kota/kabupaten yang berada didalam wilayah kerja provinsi banten terdiri dari beberapa ratus kecamatan, termasuk kecamatan-kecamatan yang berada didalam wilayah kerja kabupaten lebak.

Mengingat demikian luasnya cakupan wilayah kecamatan-kecamatan yang masuk kedalam kabupaten lebak, maka tidak semua kecamatan dikategorikan kedalam cakupan banten kidul. Maka dengan itu, yang dimaksud dengan cakupan wilayah banten kidul dalam konteks ini yaitu sebagian wilayah kabupaten lebak paling kidul (selatan) yang terdiri dari beberapa kecamatan.

Kabupaten Lebak
Adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten, Indonesia. Ibukotanya adalah Rangkasbitung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang di utara, Provinsi Jawa Barat di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Pandeglang di barat. Luas wilayahnya 3.120 km², dan jumlah penduduknya 1,1 juta jiwa (2003). Kabupaten Lebak terdiri atas 23 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Rangkasbitung, yang berada di bagian utara wilayah kabupaten. Kota ini dilintasi jalur kereta api Jakarta-Merak.

Bagian utara kabupaten ini berupa dataran rendah, sedang di bagian selatan merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Halimun di ujung tenggara, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Sungai Ciujung mengalir ke arah utara, merupakan sungai terpanjang di Banten. (sumber: www.wikipedia.org)

Kabuapten lebak terdiri dari 23 kecamatan, yaitu : Banjarsari | Bayah | Bojongmanik | Cibadak | Cibeber | Cijaku | Cikulur | Cileles | Cilograng | Cimarga | Cipanas | Curugbitung | Gunungkencana | Leuwidamar | Maja | Malingping | Muncang | Panggarangan | Rangkasbitung | Sajira | Sobang | Wanasalam | Warunggunung ((sumber: www.wikipedia.org)

Banten kidul dalam konteks ini
Dari 23 kecamatan yang ada tersebut tidak semuanya disebut banten kidul, dalam hal ini hanya 10 kecamatan, dimana 9 dari 10 kecamatan tersebut (secara sejarah) ex distrik banten kidul / kawedanaan cilangkahan, yaitu: Banjarsari, Malingping, Cihara, Panggarangan, Bayah, Cijaku, Wanasalam, Cilograng, Cibeber dan Cigemblong(www.kompas.com, 18.06.2007)

Kondisi Alam
Secara umum kondisi alam wilayah banten kidul terdiri dari tiga kategori: Dataran Rendah, Perbukitan dan Pesisir/Pantai.

Dataran rendah umumnya merupakan areal pertanian dan perkebunan. Pertanian yang berada didaerah ini hampir sebagian besar pertanian penduduk baik berupa sawah-tadah hujan maupun palawija, sedangkan perkebunan terdiri dari kelapa, kelapa sawit dan karet. Kondisi alam sperti ini sebagian besar berada di wilayah Banjarsari hingga perbatasan dengan Gunung Kencana dan Malingping.

Kondisi alam perbukitan umumnya berupa areal perkebunan kelapa, kelapa sawit, karet, coklat bahkan kehutanan yang sebagian besar merupakan kehutanan pemerintah dengan spesis mahoni dan jati. Sebagian kecil perkebunan tanah adat berupa kelapa, melinjo, palawija termasuk aren. Kondisi alam demikian terdapat di Cijaku, Cilograng, Cibeber dan Cigemblong.

Kondisi alam kearah selatan adalah alam pesisir/pantai, meliputi Panggarangan, Bayah, Cihara dan sebagian Wanasalam. Banyak patai tempat wisata yang sering di kunjungi di wilayah ini diantaranya pantai Bagedur, Karangtaraje, Cibobos dll

Sebagian besar kondisi alam banten kidul bercorak aggraris dan pantai, maka tidak heran bila banyak terdapat sungai/kali mengalir di wilayah ini. Diantara sungai yang cukup besar/panjang adalah sungai Cihara dan sungai Ciliman.

* Sumber Daya Alam
Hasil bumi merupakan sumber daya alam andalan wilayah banten kidul, baik pertanian, perkebunan maupun palawija.

Semakin keselatan hingga yang berbatasan dengan Pelabuhan Ratu/Sukabumi merupakan daerah pantai dan sentra areal penangkapan ikan bagi para nelayan, tempat pelelangan ikan Binuangeun adalah tempatnya. Daerah ini juga masih menyimpan potensi pertambangan seperti pasir, bouksit, batu bara hingga logam mulia seperti emas. (www.kompas.com 20.11.2006)

Sentra pertambangan emas Cikotok yang terkenal yang mulanya lebih dahulu "dijarah" oleh penjajah Belanda kemudian di lanjutkan "dikeruk" oleh Aneka Tambang, merupakan bukti betapa tingginya kandunga sumber daya mineral di banten selatan/kidul ini. Wacana akan dibangunya pabrik semen di daerah ini juga tidak terlepas karena begitu potensialnya daerah ini.

Demikian juga yang telah lebih dahulu ada pabrik pengolahan kelapa sawit (yang konon) terbesar di jawa barat (waktu itu banten masih bagian dari jawa barat) bahkan konon terbesar di pula jawa, juga tidak terlepas dari potensi yang ada dari sektor perkebunan. Pabrik pengolahan latex (getah karet) yang berada di kecamatan Gunung Kencana yang sebagian perkebunannya berada di wilayah banten kidul juga menandakan potensialnya daerah ini untuk sektor perkebunan.

Pengembangan pariwisata pantai serta perikanan (laut) merupkan potensi sumber daya alam yang yang saat sekarang ini sedang "haus" menantikan para investor

* Kondisi Sosial masyarakat
Sebagai masyarakat yang masih bercorak agraris, kehidupan masyarakat banten kidul masih memiliki sense of communal yang tinggi, terutama di pedesaan. Seperti umunya masyarakat pedesaan, kehidupan keaagmaan juga masih nampak disana, peranan pondok pesantren yang jumlah sangat banyak merupakan dinamisator bermasyakarat yang masih nampak hingga saat ini. Peranan ulama/kyai dan pemuka adat/kampung umumnya lebih menonjol dalam mempelopor kedinamisan masyarakat ketimbang pemerintah formal.

* Infrastruktur, sarana informasi & komunikasi














ISTILAH BANTEN KIDUL

Istilah/nama "Banten" sudah pasti akrab pada telinga setiap orang khususnya untuk seantero pulau jawa dan umumnya untuk seluruh masyarakat Indonesia. Tetapi untuk istilah "Kidul" mungkin tidak akan seakrab dengan istilah banten itu sendiri.

Dalam terminologi bahasa indonesia, empat arah mata angin yang utama terdiri dari: Utara, Barat, Timur dan Selatan. Sedangkan dalam terminologi bahasa daerah (termasuk) bahasa sunda dikenal istilah : Lor/Kaler, Kulon, Wetan dan Kidul.

Lor/Kaler = Utara,
Kulon = Barat,
Wetan = Timur,
Kidul = Selatan.

Dengan demikian istilah Banten Kidul = Banten Selatan.

Menurut pendapat saya, istilah Banten Kidul lebih memiliki history psikologi dengan Dinasti Kaolotan yang menempati spiritual spirit tersendiri/khusus dalam diri warga masyarakat banten kidul sekaligus sebagai aset spiritual/budaya.

Tapi sebaliknya, apabila mendengar istilah Banten Selatan bayangan orang umumnya hanya akan tahu sebagai "kabupaten lebak/rangkas bitung bagian ujung/selatan yang ada pantainya".. ........atau bagian dari wilayah kerja kabupaten lebak.

Demikian pula dilihat dari sisi sejarah, sebetulnya istilah banten kidul telah dikenal jauh sejak jaman kesultanan banten. Sedangkan istilah banten selatan, dikenal setelah ada kebaupaten lebak.



May 28, 2007

MEMANFAATKAN BLOG'S

Bagaimana cara memanfaatkan blog yang saya sediakan ini ?

Bagi Owner (Pemilik Blog)

Selaku owner, blog ini akan saya manfaatkan sebagai ajang untuk tulis-menulis khususnya yang berkaitan dengan banten kidul (khususnya) atau untuk wilayah banten secara keselurhan (umumnya).

Blog ini merupakan media saya dalam olah fikir dan olah rasa, baik itu masalah religi / keagamaan, sosial / kemasyarakatan, perekonomian / pembangunan, politik / pemerintahan, pendidikan, seni, parawisata , kebudayaan dan sebagainya.....dan sebagainya yang dapat saya tuangkan kedalam tulisan.


Bagi Visitor (Pengunjung)
Untuk para pengunjung blog saya khususnya yang mencintai banten kidul, blog ini dapat dijadikan sebagai wahana baca, wahana apresiasi, wahana diskusi terhadap apa-apa yang berkaitan dengan banten kidul serta media untuk menyambung silaturahmi.

Bagi anda yang berkesempatan berkunjung pada blog saya ini, kemudian tertarik untuk bersilaturrahmi dengan saya silahkan mengisi komentar pada menue "komunikasi "pengunjung" atau sarana komunikasi lain sebagaimana yang telah saya infokan.

Terima kasih atas kunjungannya.... tetap cinta banten kidul..... dan selamat berjuang..... !

TENTANG BLOG'S


Source hosting

Web saya ini free hosting yang dalam hal ini dari blogspot / www.blogger.com, terus terang saya belum terlalu tahu banyak tentang pemilik domain/situs ini karena sampai saat ini hanya sebatas memanfaatkan yang mereka sediakan. Oleh karena itu saya ucapkan terima kasih kepada pemilik domain/situs tersebut.


Alamat situs blog's

Blog saya ini beralamatkan pada www.bantenkidul.blogspot.com


Title blog's

Blog's ini saya beri nama "BANTEN KIDUL"


Slogan blogs'

Mari tetap CINTA, belajar dari CERITA, berinteraksi dengan REALITA dan gelorakan semangat demi CITA-CITA


Makna slogan blog's

KECINTAAN terhadap kampung halaman hendaknya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapanpun, dimanapun , siapapun dan seperti apapun kita hendaknya kita tetap mencintai banten kidul. Lemah-cai tempat urang di ayun-ambing ku indung, tempat urang awal nincak lemah, tempat urang medar kadunia..... meureun isuk jaganing geto tempat urang nitipkeun waruga mangsa urang tilar dunia.

Banten kidul tidak akan terlepas dari CERITA atapun sejarah (baik formal, tidak formal bahkan sekedar mytos sekalipun). Cerita/sejarah adalah pengalaman masa lalu yang sangat berharga, anu ngajadi carita kana hirup-kumbuhna manusa.. candak nu saena, piceun nu awona....!

REALITA/kenyataan yang kita alami adalah suatu keniscayaan hidup yang tidak bisa kita hindari, apapun yang kita alami hari ini adalah episode hidup yang harus kita jalani dengan bijak. Berinteraksi dengan realita adalah senantiasa olah fikir, olah rasa dan unjuk karya agar semua bermuara kepada satu cita-cita bagaimana agar masyarakat bantek kidul hidup lebih mulya...!

Dibekali dengan cinta, bercermin/belajar kepada cerita masa lalu dan berinteraksi dengan realiata dalah keharusan untuk menggapai CITA-CITA..........

Cita-cita kita (aku, engkau dan mereka) adalah sama yakni mewujudkan banten kidul yang dapat "MEMANUSIKAN" MANUSIA.............

Tujuan pembuatan blog's

Mengolah fikir, mengolah rasa dan unjuk karya merupakan metoda seseorang dalam mengekspresikan cintanya kepada banten kidul.

Ekspresi cinta kepada banten kidul bisa dengan methode apa saja dan bisa dimana saja, karena sedetik saja anda/kita ingat akan banten kidul atau sesaat saja anda/kita terbayang tanah kelahiran anda/kita di banten kidul layak dikatakan cinta kepada banten kidul.

Mencintai banten kidul dapat di ibaratkan dengan suatu "pemberian shodaqoh", yang dapat berdimensi beberapa nilai. Baik itu nilai ruhiyah, maliah, insaniah maupun nilai etika/moral.

  • Panjatkan do'a anda untuk banten kidul maka cepat atau lambat Alloh akan mendengar.......
  • Infaqkan harta, tenaga, fikiran anda untuk kejayaan banten maka orang akan mencatat anda dengan "tinta emas" ......
  • "Manusikan" orang yang ada dibanten kidul, "hewankan" binatang yang ada dibanten kidul, "hijaukan" alam dan tumbuhan yang ada dibanten kidul..... maka dengan semua itu anda akan laksana "harimau meninggalkan belang"........
  • Junjung-tinggi etika/moral dalam menjalani kehidupan di banten kidul... maka anda telah berbuat untuk separoh perjuangan.....

Dengan :

Berdo'a untuk banten kidul : anda/kita telah berbuat untuk banten kidul yang bernilai ruhiah,

Berinfaq (harta, tenaga dan firkiran) untuk banten kidul : anda telah berbuat untuk banten kidul yang bernilai maliah,

"Memanusiakan" - manusia, "menghewankan" - binatang, "menghijaukan" - alam/tumbuhan di banten kidul anda telah berbuat untuk banten kidul yang bernilai insaniah (sadar akan hukum 'alam / sunatullah)

Dimana bumi dipijak-disitu langit dijunjung (sadar akan etika/moral) kita terapkan di banten kidul dalam kehidupan sehari-hari : maka anda telah berbuat untuk banten kidul yang bernilai etika/moral.

BLOG INI ADALAH EKSPRESI CINTA SAYA KEPADA BANTEN KIDUL......!

TENTANG SAYA (Blog's Owner)


Meskipun saat ini saya beraktifitas diluar daerah Banten Kidul, tetapi karena saya lahir dan dibesarkan di sana maka hati dan fikiran sungguh tidak dapat dipisahkan. Kehadiran blog ini pun tidak terlepas dari sense of belonging terhadap lembur pangbalikan tersebut.

Riwayat Kelahiran
Menurut Ibu saya sesaat setelah saya dilahirkan uwak (kakanya ibu) saya memberikan nama kepada saya Dedi Rustandi, meskipun saat ini (secara formal) hanya tertulis Rustandi. Saya terlahir dan dibesarkan dari keluarga muslim sederhana pada tanggal 18 Januari 1978 tepatnya di Desa Leuwi Ipuh, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten Selatan (Kidul). Ibu saya adalah bernama Tuti (Nurhayati) (anak Muhammad Nursaid (abah Said) bin Sukma dengan Janasih binti Tb. Abdul Jawadz), sedangkan bapak saya bernama Surdin (anak Jari bin Dairam dengan Saprah binti Kaham)

Riwayat Pendidikan
Saya menempuh pendidikan di SDN Leuwi Ipuh II pimpinan ibu Enok Kurniawati. Guru saya di Kelas I adalah pak Suranata (Mamat) dan pak Fachrurazi, kemudian kelas II masih pak Fahrurazi, lalu kelas III pak Suranata (Mamat) yang setelah beliau di mutasi ketempat lain (menjadi kepala sekolah) di teruskan oleh ibu Siti Nurhayati, kelas IV pak Wastadi, kemudian kelas V p Aar Arkasim dan kelas Vi pak Hasan Basri. Masih pada periode ini, sore harinya saya juga menempuh pendidikan Madrasah di MI. Mathlaul Anwar Tapos pimpinan Alm. Ust. Hassan.

Selepas pendidikan dasar saya meneruskan pendidikan lanjutan tingkat pertama di SMPN 1 Banjarsari dan Tahun 1990. Kelas I wali kelas bpk. Engkun Sobari (yg diteruskan oleh bpk. Asep Otas Junaedi), kemudian kelas II bpk. Amar Suhenda dan kelas III bpk. Suhadi.

Saya menamatkan pendidikan lanjutan tingkat atas di SMAN1 Banjarsari. Wali kelas saya waktu itu masing-masing I bpk. Kurnia, II bpk. Taprodi dan III bpk. Kusnadi

Sedangkan pendidikan tinggi saya tempuh di Universitas Terbuka (FISIP Prodi Ilmu Pemerintahan)

Adapun pendidikan kejuruan yang saya tempuh adalah seputar Asuransi (khususnya asuransi umum) , dan yang terakhir ini saya tempuh di Lembaga Pendidikan Asuransi Indonesia (LPAI) dan di Jakarta Insurance Insititute (JII).

Untuk belajar cas-cis-cus....:) saya juga pernah "nyantri" di Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris IEC +/- selama 18 bulan.

Kegemaran/hobi
Kegemaran saya yang utama adalah membaca, disamping itu saya juga suka menulis, selain dua itu saya juga senang berorganisasi.

Aktifitas
Menjalani kehidupan sebagai kepala keluarga seperti orang lain upada mumnya adalah kegiatan saya saat ini, bersama istri saya tercinta: Siti Rodiah dan kami telah dikarunia satu orang putri : Nita Alviriani Rustandi (10 tahun) dan seorang putra: M. Dandi Aprilianayah (2 tahun)

Disamping itu saya juga sebagai pegawai swasta pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam bidang reinsurance broker & consultant.


Sarana komunikasi
021 - 808 900 20 (kantor)
0878 87 160 735 ( mobile)

e-mail : roestandi@gmail.com, rustandi@dekai.co.id